Cara penyampaian pesan memang bisa lewat media apa saja. Termasuk tari. Lewat menari, sebagian besar penduduk Indonesia percaya pesan yang tersimak dibaliknya bisa lebih mudah ditangkap. Semisal Jathilan. Tari yang di beberapa daerah juga disebut sebagai Jaran Kepang atau Kuda Lumping ini menggambarkan tentang agresivitas dan kegagahan seorang pejuang saat berlaga di medan perang. Prajurit tersebut terlihat sangat berwibawa saat menunggang kuda perang.

Nama Jathilan sendiri berasal dari bahasa Jawa, “jan” yang berarti amat dan “til-lan” yang berarti banyak gerak. Tak heran jika saat membawakan tarian ini, sang penari yang beraksi sambil mengepit kuda yang terbuat dari anyaman bambu akan menari  sambil kesurupan. Mereka akan terus-terusan menari tanpa kenal lelah sambil berputar-putar hingga akhirnya mengalami trance.

Saat tidak sadarkan diri, mereka akan melakukan apa saja sesuai dengan perintah sang dukun alias pawing yang juga bertugas untuk mengendalikan jalannya Jathilan dan mengkontrol roh-roh halus yang merasuki tubuh para penari. Mereka bisa memakan pecahan kaca dan menikmatinya layaknya sebuah kudapan yang sangat lezat hingga mengupas kelapa hanya dengan menggunakan gigi.

Namun dibalik semua kemagisannya, Jathilan merupakan sebuah kesenian yang berusaha untuk menampilkan sebuah kesederhanaan. Menurut Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Gandung Sudjatmiko, “Hal ini bisa disimak lewat penampilan pakaian yang digunakan penari. Mereka menggunakan celana selutut, kain batik bawahan, kemeja atau kaus, setagen, srempeng, sampur, udheng dan sumping. Tarian yang diperagakan pun cenderung monoton dengan komposisi yang sederhana namun penuh dengan semangat” (www.beritaindonesia.co.id).

Seperti semangat para pejuang dan pasukan berkuda saat beraksi di medan laga…

Sumber: http://project.marketbizmedia.com/palingindonesia/?p=301

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.