Tim Pengabdian pada Masyarakat Universitas Sebelas Maret, pada tanggal 27 Agustus 2020 mengadakan acara pelatihan berbahasa Jawa yang baik dan benar di media sosial dan di dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Bekon Desa Kaliwuluh, Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar, dengan sasaran anggota pemuda dan karang taruna.

Pelatihan bahasa Jawa krama di kalangan para pemuda bertujuan agar muncul sikap yang mencintai dan menghargai budaya dan bahasa Jawa sebagai bagian dari budaya Jawa. Selain itu, dengan menggunakan bahasa Jawa krama diharapkan akan memunculkan sikap budi pekerti dan karakter yang luhur di kalangan para pemuda. Seperti kita ketahui pada saat ini, bahwa kondisi dan karakter beberapa pemuda telah banyak yang meninggalkan budi pekerti dan tata cara hidup masyarakat Jawa. Apabila dicermati, penguasaan akan bahasa Jawa tidak saja hanya bersifat kebahasaan saja, tetapi juga didukung dengan penguasaan sikap sesuai dengan konteksnya.

Yang menjadi fokus pada pengabdian ini adalah masih banyaknya penggunaan bahasa Jawa yang kurang memenuhi kadar kesopansantunan dalam berkomunikasi. Sopan santun ini meliputi komunikasi dengan menggunakan unggah-ungguh atau tata krama yang sesuai, baik ketika berkomunikasi dengan teman sebaya atau orang yang lebih tua.

Acara ini pertama-tama dibuka oleh ketua tim pengabdian UNS yaitu Budi Waluyo, S.S.,M.Pd. Beliau memaparkan terkait tujuan dilaksanakan pengabdian dari tim P2M UNS. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dua orang yaitu Tya Resta Fitriana, S.Pd.,M.Pd. Dan Prima Veronika, S.Pd.,M.Pd.

Materi yang disampaikan secara garis besar adalah bagaimana tetap menggunakan bahasa yang sopan meskipun hanya dalam media sosial. Banyak pemuda yang tidak menggunakan bahasa yang baik bahkan kurang sopan ketika dalam komunikasi di media sosial, semisal di WhatsApp (WA), Twiter, Facebook, YouTube dan sebagainya. Sehingga tidak jarang muncul berbagai masalah karena penggunaan bahasa yang kurang baik atau kurang sopan. Bahkan juga sering muncul ujaran-ujaran kebencian yang muncul di sana, yang sangat mengganggu pengguna media sosial.

Selain hal tersebut juga disinggung masalah penggunaan unggah-ungguh dalam berbahasa. Unggah-ungguh bahasa Jawa adalah variasi-variasi bahasa yang perbedaan antara satu dan lainnya ditentukan oleh perbedaan sikap santun yang ada pada diri pembicara (O1) terhadap mitra bicara (O2). Variasi tersebut berwujud perbedaan-perbedaan kata akan tetapi artinya sama. Misal: rambut-rikma, mangan-nedha-dhahar, turu-tilem-sare, dan lain sebagainya. Banyak pengguna bahasa masih belum bisa menggunakan unggah-ungguh bahasa dengan baik.

Kesehariannya, para pemuda lebih suka menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahkan bahasa Indonesia. Sebagai bagian dari masyarakat Jawa, hal ini tentunya menjadi sesuatu yang memprihatinkan. Tekanan penguasaan bahasa asing juga menjadi salah satu faktor menurunnya kualitas penguasaan bahasa Jawa. Seperti tampak pada pembelajaran di sekolah, yang mulai mengutamakan bahasa asing untuk diajarkan, sedangkan bahasa Jawa hanya dijadikan pelajaran muatan lokal yang seringkali di kesampingkan dengan waktu belajar yang cukup singkat, yaitu satu sampai dua jam pelajaran per minggu.

Sebagai upaya untuk mencegah dan mengatasi semakin memudarnya budaya penggunaan bahasa Jawa krama di kalangan pemuda, maka tim pengabdi ingin menyelenggarakan pelatihan berbahasa Jawa krama yang baik dan benar, yang sesuai dengan unggah-ungguh di kalangan pemuda melalui organisasi karang taruna. Organisasi karang taruna yang merupakan suatu perkumpulan pemuda diharapkan dapat dijadikan sebagai wadah pelatihan yang efektif. Selain itu, perkumpulan karang taruna juga sebagai wadah yang tepat untuk mengumpulkan pemuda dalam rangka pelatihan maupun sosialisasi.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan sasaran pemuda ini diharapkan menjadi salah satu sumbangsih Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa, FKIP, UNS dalam rangka mempertahankan bahasa Jawa. yang saat ini dianggap mengalami krisis kemampuan berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar. Selain itu, pelatihan untuk para pemuda diharapkan dapat memberikan bekal mereka sebagai generasi penerus untuk dapat melestarikan budaya Jawa, khususnya bahasa Jawa. Hal ini mengingat bahwa para pemuda khususnya karang taruna menjadi bagian dari kelompok sosial yang seringkali melaksanakan tugas/kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan-kegiatan tersebut tentunya memerlukan komunikasi bahasa yang baik. Di sinilah dapat dikatakan bahwa penguasaan bahasa Jawa yang baik dan benar sesuai dengan konteks situasi sangat diperlukan.

Pelatihan bahasa Jawa krama di kalangan para pemuda bertujuan agar muncul sikap yang mencintai dan menghargai budaya dan bahasa Jawa sebagai bagian dari budaya Jawa. Selain itu, dengan menggunakan bahasa Jawa krama diharapkan akan memunculkan sikap budi pekerti dan karakter yang luhur di kalangan para pemuda. Seperti kita ketahui pada saat ini, bahwa kondisi dan karakter beberapa pemuda telah banyak yang meninggalkan budi pekerti dan tata cara hidup masyarakat Jawa. Apabila dicermati, penguasaan akan bahasa Jawa tidak saja hanya bersifat kebahasaan saja, tetapi juga didukung dengan penguasaan sikap sesuai dengan konteksnya.

Yang menjadi fokus pada pengabdian ini adalah masih banyaknya penggunaan bahasa Jawa yang kurang memenuhi kadar kesopansantunan dalam berkomunikasi. Sopan santun ini meliputi komunikasi dengan menggunakan unggah-ungguh atau tata krama yang sesuai, baik ketika berkomunikasi dengan teman sebaya atau orang yang lebih tua.

Acara ini pertama-tama dibuka oleh ketua tim pengabdian UNS yaitu Budi Waluyo, S.S.,M.Pd. Beliau memaparkan terkait tujuan dilaksanakan pengabdian dari tim P2M UNS. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dua orang yaitu Tya Resta Fitriana, S.Pd.,M.Pd. Dan Prima Veronika, S.Pd.,M.Pd.

penyampaian materi pelatihan

Materi yang disampaikan secara garis besar adalah bagaimana tetap menggunakan bahasa yang sopan meskipun hanya dalam media sosial. Banyak pemuda yang tidak menggunakan bahasa yang baik bahkan kurang sopan ketika dalam komunikasi di media sosial, semisal di WhatsApp (WA), Twiter, Facebook, YouTube dan sebagainya. Sehingga tidak jarang muncul berbagai masalah karena penggunaan bahasa yang kurang baik atau kurang sopan. Bahkan juga sering muncul ujaran-ujaran kebencian yang muncul di sana, yang sangat mengganggu pengguna media sosial.

Selain hal tersebut juga disinggung masalah penggunaan unggah-ungguh dalam berbahasa. Unggah-ungguh bahasa Jawa adalah variasi-variasi bahasa yang perbedaan antara satu dan lainnya ditentukan oleh perbedaan sikap santun yang ada pada diri pembicara (O1) terhadap mitra bicara (O2). Variasi tersebut berwujud perbedaan-perbedaan kata akan tetapi artinya sama. Misal: rambut-rikma, mangan-nedha-dhahar, turu-tilem-sare, dan lain sebagainya. Banyak pengguna bahasa masih belum bisa menggunakan unggah-ungguh bahasa dengan baik.

Kesehariannya, para pemuda lebih suka menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahkan bahasa Indonesia. Sebagai bagian dari masyarakat Jawa, hal ini tentunya menjadi sesuatu yang memprihatinkan. Tekanan penguasaan bahasa asing juga menjadi salah satu faktor menurunnya kualitas penguasaan bahasa Jawa. Seperti tampak pada pembelajaran di sekolah, yang mulai mengutamakan bahasa asing untuk diajarkan, sedangkan bahasa Jawa hanya dijadikan pelajaran muatan lokal yang seringkali di kesampingkan dengan waktu belajar yang cukup singkat, yaitu satu sampai dua jam pelajaran per minggu.

Sebagai upaya untuk mencegah dan mengatasi semakin memudarnya budaya penggunaan bahasa Jawa krama di kalangan pemuda, maka tim pengabdi ingin menyelenggarakan pelatihan berbahasa Jawa krama yang baik dan benar, yang sesuai dengan unggah-ungguh di kalangan pemuda melalui organisasi karang taruna. Organisasi karang taruna yang merupakan suatu perkumpulan pemuda diharapkan dapat dijadikan sebagai wadah pelatihan yang efektif. Selain itu, perkumpulan karang taruna juga sebagai wadah yang tepat untuk mengumpulkan pemuda dalam rangka pelatihan maupun sosialisasi.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan sasaran pemuda ini diharapkan menjadi salah satu sumbangsih Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa, FKIP, UNS dalam rangka mempertahankan bahasa Jawa. yang saat ini dianggap mengalami krisis kemampuan berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar. Selain itu, pelatihan untuk para pemuda diharapkan dapat memberikan bekal mereka sebagai generasi penerus untuk dapat melestarikan budaya Jawa, khususnya bahasa Jawa. Hal ini mengingat bahwa para pemuda khususnya karang taruna menjadi bagian dari kelompok sosial yang seringkali melaksanakan tugas/kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan-kegiatan tersebut tentunya memerlukan komunikasi bahasa yang baik. Di sinilah dapat dikatakan bahwa penguasaan bahasa Jawa yang baik dan benar sesuai dengan konteks situasi sangat diperlukan.

oleh Tim Humas PBJ

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.