Gerak tarian prajurit yang memadu dalam irama musik kendang yang dimainkan oleh enam, dua belas atau delapan belas orang menjadi ciri sekaligus keunikan kesenian Reog Kendang asal Tulungagung, Jawa Timur.
Kemudian para aktifis kesenian Reog dan jaranan bersatu untuk melestarikan kesenian Reog Kendang Tulungagung dengan mendirikkan Komunitas Reyog Kendang Batara Agung Saguru sebagai wadah seniman tari Reyog dan Jaranan se-Kabupaten Tulungagung . Karena kesenian yang telah hidup di Tulungagung selama puluhan tahun tersebut kerap menjadi sengketa antar kelompok kesenian, maka Reyog Kendang Batara Agung Saguru mengajukan Hak Cipta Reog Kendang.

Didik Handoko, selaku pembina Komunitas Reyog Kendang Batara Agung Saguru Tulungagung, bahwa sekarang ini tidak kurang ada tiga ratusan kelompok kesenian Reyog Kendang dengan jumlah anggota setiap kelompoknya kurang lebih 45 orang dan setiap bulan Agustus pemerintah kabupaten Tulungagung akan menggelar festival kesenian Reyog Kendang.
Ia menambahkan, Komunitas Reyog Kendang Batara Agung Saguru ini adalah wadah seniman tari Reyog dan Jaranan se-Kabupaten Tulungagung. Dan, akhir Juli 2009 nanti akan berangkat ke negeri matahari Jepang dan bulan Agustus 2009 berangkat ke Madrid, Spanyol. Sedangkan, dalam bulan Oktober 2009, Reyog Kendang Batara Agung Saguru ini akan pula tampil dalam perhelatan seni budaya Cross Culture di Surabaya.
“Kami diundang oleh Kedutaan Besar RI di Jepang dan Spanyol untuk tampil di sana dan kami pun sudah menyiapkan atraksi-atraksi jaranan, selain Reyog Kendang,” kata Didik.
Reog kendang Tulungagung mempunyai keunikan bahwa penarinya yang berjumlah 6, 12, atau 18 orang sesuai jumla kendang yaitu dalam satu set (unit) ada 6 kendang atau yang sebut gembluk/ gemblug/dhodhog. Ke 6 gembluk/gembung/dhodhog mempunyai ukuran dan cara memukul yanng berbeda. Sementara semua penari melakukan gerak kaki yang sama. Lagu yang digunakan untuk mengiringi kadang lagu perjuangan. Atau lagu yang populer saat reog itu ditampilkan.
Sejarah kesenian Reyog Kendang khas daerah penghasil marmer ini tidak lepas dari legenda yang mengisahkan kehendak raja Bugis untuk memboyong sang putri cantik dari Kediri. Sang putri cantik itu, tak lain adalah Kedi (banci/waria-red).
Sang putri pun memberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi, jika utusan Raja Bugis itu hendak memboyong dirinya ke kerajaan. Syarat-syarat itu antaranya berupa mata ayam tukung sebesar terbang miring digantung di gubuk penceng. Dendeng tengu sebesar mulut tetelan, madu lanceng sebanyak enam bumbung, serulung batang padi sebesar batang kelapa dan binggel.
“Dari syarat-syarat yang diminta oleh sang puri itu, lalu terciptalah gembluk (kendang), sompret, gongseng, iker-iker, kenong dan gong yang menjadi kesenian tradisi Reyog Kendang,” kata sesepuh seniman Reyog Kendang, Suryamiadi.
Alkisah, setelah seluruh persyaratan yang diminta oleh sang putri itu sudah terpenuhi, lalu prajurit asal kerajaan Bugis itupun menyerahkannya dengan tata laku gerak yang akhirnya terciptalah gerak mentokan, gerak tekesan, gerak liling-lilingan, joged tole-tolean, joged nguak sumur dan gerak kejang yang saat ini dikenal dengan Reog Kendang.
- Gerak Baris: gerakan lurus seperti layaknya orang berbaris dengan dhodhog kerep berada di depan, kaki menegikuti gerak dhodhog biasanya menggunakan irama drimband . gunanya untuk keluar dan masuk ppanggung.
- Gerak Sundangan: Gerakkan bahu dang kepala badan agak membungkuk , kaki tanjak kanaan bila yang depan kaki kanan. Gerakkan iini menyerupai banteng yang sedang menyruduk/ nyundang.
- Gerak Andul: mengayun kaki yang diangkat setinggi paha. Ayunan dilakukan ke depan ke belakang. Ada kalanya kaki yang menjadi tumpuan mengikuti dengan gerak loncat ( gedrik).
- Gerakan Menthokan: Gerakan posisi badan membungkuk telapak kaki napak datar, kedua lutut menempel mendak berjalan ke kepan sehingga pinggul megal menggol seperti mentho berjalan.
- Gerak Gedjoh Bumi: Posisi badan agak membungkuk, kaki kanan menapak datar kaki kiri di belakang diangkat tuminya (gejuk) atau di gejoh-gejohkan ke tanah sampai kaki kanan lurus.
- Gerak Ngongak Sumur: Gerak kaki kanan ke depan ke belakang pada saat kaki kanan ke depan kepala menunduk ke bawah seperti orang melihat ke dalam sumur), dan waktu kaki kakan di belakang pandangan ke atas.
- Gerak Midak Kecik: jalanmunduk dengan ujung kaki menapak lebih dahulu kemudian baru tumit.
- Gerak Lillingan: gerakkan berpasangan yang saling berhadapan antara dua penari. Mereka berpandangan dengan jarak yang sangat dekat . biasanya dilakukan dengan kaki tanjak berhenti dan kepala lenggut-lenggut bisa di lakukan dengan berjalan saling berputar.
- Ggerak Kejang: berjalan dengan tumit diangkat. Posisibadan mulai dari kepala sampai kaki kaku lurus sehingga gerak jalan dilakukan terpatah-patah seperti robot.
- Gerak Bari: kenbali ke gerak saat masuk panggung yaitu gerakan lurus seperti layaknya orang berbaris dengan dhodhog kerep berada di depan, kaki menegikuti gerak dhodhog biasanya menggunakan irama drimband . gunanya untuk keluar dan masuk panggung
KOSTUM
Pada Reog Kendang Tulungagung yang perlu diperhatikan adalah ke aslian gerak. Artinya gerak yang sudah didoskripsikan melalui buku yang berjudul’’REYOG TULUNGAGUNG’’ dalam rangka pendokumentasian, pendriskripsian dan pembuatan pedoman tari khas Tulungagung.Buku ini diterbitkan 5 Maret 1996 yang disusun oleh Drs. Mugianto, So’iran, Sri Wahyuni,BA, W.Adi Suwignyo, Tasik sunarto dan gambar panduan oleh Drs. Nurhadi.
- KOSTUM BAGIAN KEPALA
- Udheng
- Guling/ iker
- Sumping
- Kaca mata
- KOSTUM BAGIAN BADAN
- Baju
- Celana
- Kain panjang/ jarit
- StagenSabuk timang
- Kace
- Ter
- Srempang
- Boro-boro
- Sampur
- Keris
KOSTUM BAGIAN KAKI
- Kaos kaki
- Gongseng/ klinthing.
Sumber:
