Ternyata, upacara pengantin tidak hanya berlangsung untuk manusia saja karena ada juga pasangan lain yang harus disatukan dalam suatu upacara adat. Namanya upacara adat Cembengan, atau tebu temanten, atau giling tebu yang dilakukan di Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar. Pabrik gula ini berada sekitar 15 km ke arah timur dari kota Solo. Tradisi seperti ini biasanya dilakukan oleh semua pabrik gula.

Mereka melakukan ritual tertentu yang dimaksudkan sebagai doa agar proses penggilingan tebu setelah musim panen berjalan lancar. Dengan jumlah tebu yang mencapai jutaan kuintal, maka harapan untuk kemudahan pekerjaan dalam proses membuat gula pun masih dilakukan dengan menyelenggarakan tradisi Cembengan.

Menurut filosofi, upacara Cembengan yang masih dipertahankan oleh pabrik gula merupakan satu simbol kemitraan antara tebu yang dipanen oleh PG (Pabrik Gula) Tasikmadu dengan tebu yang dipanen oleh para petani.

Dan dengan dilaksanakannya tebu temanten ini, pabrik gula dan masyarakat dapat bekerja sama untuk memberi kontribusi penyediaan gula pasir untuk daerah sekitar pada khususnya, dan untuk skala nasional pada umumnya.

Saat anda menyaksikan acara Cembengan, anda akan melihat calon mempelai laki-laki yang dinamai Bagus Guntur Madu berwarna hitam dan juga calon mempelai wanita yang dinamai dengan Rara Sekarsari berwarna kuning.

Pemberian nama yang dilakukan pada ritual Cembengan ini dimaksudkan agar proses penggilingan tebu dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala yang berarti. Selain itu, mereka berdua pun didandani seperti layaknya pasangan pengantin yang akan melangsungkan pernikahan.

Menurut ritual yang berkembang di PG Tasikmadu, prosesi ini mencapai puncak pada hari Jum’at Wage pada sistem penanggalan Jawa. Hal ini dilakukan dengan dimulainya penebangan dua batang tebu yang nanti akan dijadikan sebagai tebu pertama yang akan digiling.

Sedangkan pada petang harinya, ritual pun kembali dilanjutkan dengan meletakan berbagai macam sesaji di lokasi mesin giling. Isinya dapat berupa telur asin, tumpeng, kinangan, ketupat, gecok bakar, dan juga jenang.

Ada sejarah yang mendahului upacara adat Cembengan ini. Konon, tradisi ini telah dilakukan oleh pekerja Tionghoa dengan nama Cing Bing di PG Tasikmadu yang diwarisi oleh Mangkunegaran IV sebagai pendiri pabrik pada tahun 1871. Karena ini merupakan tradisi yang harus dilakukan secara turun-temurun, masyarakat pun merasa kesulitan untuk melafalkan kata Cing Bing.

Selanjutnya, istilah Cembengan pun lebih populer karena dapat diucapkan dengan lebih mudah. Disaat prosesi Cembengan, pengantin tebu ini harus diarak mengelilingi pabrik gula sebelum dinikahkan.

Disaat pasangan tebu ini diarak, masyarakat pun ikut berpartisipasi dengan menyediakan berbagai macam sesaji. Misalnya, kembang telon atau tiga jenis bunga; kepala kerbau; joli yang terbuat dari bambu kertas hias; gagar mayang atau bunga dari pohon tebu; hasil bumi; tumpeng; dan berbagai macam jenis bubur.

Mereka harus berjalan kaki sekitar 2 km dari Balai Desa Suruh menuju ke Pabrik Gula Tasikmadu. Sesaji yang disiapkan untuk acara Cembengan ini dimaksudkan sebagai lambang kekuatan sehingga dapat digunakan untuk menolak bala. Jika prosesi arak-arakan sesaji ini selesai, kepala adat pun kemudian membacakan doa untuk kelancaran dalam proses penggilingan tebu di PG Tasikmadu.

Selanjutnya, sesaji yang telah didoakan itu diletakan di depan monumen lokomotif yang berada di pintu pabrik. Hal ini dimaksudkan untuk mengusir kekuatan jahat yang dapat mengganggu prosesi penggilingan tebu dan juga ritual Cembengan.

Setelah selesai, semua sesaji pun dibawa masuk ke dalam pabrik, terutama di depan mesin penggilingan tebu. Bagi anda yang tidak pernah menyaksikan acara seperti ini, tentu ini merupakan acara yang menarik dan unik karena anda akan melihat kemeriahan prosesi pernikahan dua tebu.

Penggunaan kepala kerbau pada acara Cembengan sebagai sesaji dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan kelancaran proses penggilingan tebu pertama di pabrik gula tersebut, serta mendorong semangat dan etos kerja bagi para karyawan. Sesaji yang diarak akan digotong secara bergantian oleh beberapa orang.

Warga masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik gula pun percaya kalau sesaji yang sedang mereka gotong ini dapat membawa berkah, terutama bagi pabrik gula yang akan melakukan prosesi penggilingan tebu untuk pertama kalinya menjadi gula pasir. Dalam upacara adat Cembengen, kita juga akan menyaksikan prosesi ‘ijab kabul’ yang dilakukan oleh pasangan tebu temanten.

Setelah itu, keduanya pun dimasukan secara bersama-sama dengan penggiring ke dalam stasiun penggilingan tebu. Acaranya pun meriah, mirip dengan resepsi pernikahan. Masyarakat yang datang pun ikut meramaikan upacara selamatan dengan menyediakan nasi tumpeng, sayur, dan lauk pauk lainnya.

Bagi sebagian orang, upacara adat seperti ini mungkin dianggap biasa. Tetapi, ada makna filosofis yang masih dapat diambil dari pelaksanaan ritual ini. Yang pertama tentu saja ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan panen tebu yang dapat digunakan dan diolah menjadi gula pasir.

Oleh karena itu, acara doa tidak pernah ketinggalan dalam tiap prosesi. Makna yang kedua, ini juga merupakan bentuk puncak kerja keras yang dilakukan oleh petani dan juga pabrik gula selama satu tahun menanam tebu. Dan pesta temu temanten ini dianggap sebagai representasi dari keceriaan yang dirasakan dan ingin dinikmati bersama-sama.

Dan makna ketiga tentu saja harapan panen tebu yang melimpah sehingga hasilnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Pesta rakyat yang murah meriah dalam acara upacara adat Cembengan pun akan terus berlanjut selama pabrik gula itu beroperasi.

Nah, apakah anda tertarik menyaksikan pernikahan dua batang pohon tebu? Kalau iya, datang saja saat panen tebu di Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar. Selamat berlibur.

Place Tags: CembenganKaranganyar, and UpacaraAdat

http://jalan2.com/city/karanganyar/upacara-adat-cembengan/